Lampung Timur: Konflik manusia dan gajah di sekitar Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, ditangani dengan pendekatan baru. Bukan semata mengusir gajah, pengelola justru berupaya membuat lahan warga kurang menarik bagi satwa tersebut.
Salah satunya melalui budidaya lebah. Sekitar 900 kotak lebah yang diberikan kepada masyarakat kini mulai berkembang dan diperkirakan mencapai 1.500 kotak melalui pemecahan koloni.
Ketua Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra di TNWK, Brigjen Sriyanto, mengatakan lebah diharapkan menjadi penghalau alami sekaligus sumber pendapatan warga melalui BUMDes.
“Sekarang sudah mulai pemecahan koloni. Minggu depan mungkin sudah menjadi 1.500 boks lebah,” kata Sriyanto di TNWK, Selasa (1/9/2026).
Selain lebah, TNWK mengembangkan tanaman serai. Mesin penyulingan telah dipesan untuk mengolah serai menjadi minyak atsiri yang dapat digunakan sebagai bahan sabun, pengharum, dan aromaterapi. Pengelolaannya dipusatkan melalui BUMDes Desa Braja Asri.
Strategi itu dilengkapi pembangunan tanggul di jalur yang rawan menjadi akses keluar-masuk gajah. Tanggul ditargetkan rampung pada pekan kedua September.
Perubahan juga dilakukan terhadap cara mahot menangani gajah. Balai TNWK mengirim mahot mengikuti pelatihan di Elephant Nature Park, Thailand.
Kepala Balai TNWK MHD Zaidi mengatakan pola lama yang mengandalkan rasa takut mulai ditinggalkan.
“Ke depan kita akan berusaha bahwa tidak ada lagi gajah yang dirantai. Hubungan mahot dengan gajah adalah hubungan harmonis,” ujarnya.
Pelatihan akan dilakukan bertahap, termasuk mendatangkan pelatih dari Thailand ke Way Kambas.
Di sisi lain, revitalisasi TNWK telah mencapai 75,81 persen. Setelah revitalisasi, pola interaksi wisatawan dengan gajah juga akan ditata ulang.
Dengan strategi tersebut, revitalisasi Way Kambas tidak hanya menyentuh fasilitas wisata. Pengelola juga berupaya mengubah pola hubungan manusia dan gajah agar konflik tidak terus berulang.
Pertajam dampak konflik bagi warga
Ganti judul dengan angle lebah
Ringkas kutipan agar lebih efektif. (Hendra)












