Puing-Puing Rumah Jadi Saksi, Seorang Anak Memilih Membahagiakan Ibunya dengan Hadiah Umrah

Lampung Timur:  Musibah kebakaran yang menghanguskan rumah milik Ustadz Ahmad Fathoni, pengasuh TPQ Darul Qur’an di Dusun 12 Desa Sribawono, Lampung Timur, pada Jumat siang sekitar pukul 13.20 WIB, menyisakan duka mendalam. Rumah yang selama ini menjadi tempat bernaung bagi keluarga dan pusat aktivitas pendidikan Al-Qur’an bagi lebih dari 50 santri itu rata dengan tanah dilalap si jago merah.

Namun di balik musibah tersebut, Allah seakan menghadirkan sebuah kisah yang menyentuh hati dan menjadi pelajaran berharga tentang ketulusan, keikhlasan, serta bakti seorang anak kepada ibunya.

Kabar kebakaran itu dengan cepat menyebar dan viral di media sosial. Informasi tersebut akhirnya sampai kepada Danang Setya, Owner AWater dan HS Wilayah Sumatera, melalui kakak kandungnya, Ibu Hj. Endang, yang saat itu kebetulan berada di wilayah Sribawono ketika peristiwa terjadi.

Pada malam harinya, Bapak Danang berkomunikasi langsung melalui video conference bersama Ustadz Ahmad Fathoni dan keluarganya. Sambungan komunikasi tersebut juga difasilitasi oleh Kepala Desa Nibung dan Kepala Desa Sribawono.

Dalam kesempatan itu, Danang menyampaikan rasa prihatin yang mendalam atas musibah yang dialami keluarga Ustadz Ahmad Fathoni.

“Saya turut prihatin atas musibah ini. Semoga Allah memberikan kekuatan dan mengganti dengan yang lebih baik,” ujar Danang.

Tak hanya menyampaikan empati, ia juga menyerahkan bantuan berupa uang tunai sebesar Rp20 juta serta satu paket umrah gratis untuk Ustadz Ahmad Fathoni.

Mendengar hal tersebut, Ustadz Ahmad Fathoni tak kuasa menahan air mata. Suaranya bergetar saat mengucapkan rasa syukur.

“Ini semua dari Allah,” kata Danang menenangkan. “Di balik setiap musibah pasti ada hikmah yang Allah SWT siapkan.”

Keesokan harinya, Sabtu pagi, Bapak Danang mengutus Direktur AWater, Ibu Hj. Endang, bersama Kepala Pabrik Ridho dan didampingi Kepala Desa Nibung untuk menyerahkan bantuan secara langsung kepada keluarga korban.

Setibanya di lokasi, rombongan disambut hangat oleh Kepala Desa Sribawono, keluarga besar Ustadz Ahmad Fathoni, serta warga sekitar yang masih bergotong royong membersihkan puing-puing sisa kebakaran.

Di tengah suasana haru tersebut, terjadi sebuah peristiwa yang membuat seluruh hadirin terdiam.

Dengan suara lirih, bibir bergetar, dan mata yang mulai berkaca-kaca, Ustadz Ahmad Fathoni menyampaikan sebuah permohonan kepada rombongan.

“Sebelumnya saya mohon maaf, Pak, Bu,” ucapnya pelan.

Suasana mendadak hening.

“Saya sejak dulu memiliki azzam. Walaupun saya orang yang serba terbatas, jika suatu hari Allah memanggil saya ke Tanah Suci untuk berhaji atau umrah, saya ingin menghadiahkan kesempatan itu kepada ibu kandung saya, Ibu Fatimah. Apakah saya diizinkan menyerahkan hadiah umrah ini untuk beliau?”

Mendengar permintaan tersebut, Ibu Hj. Endang langsung memberikan jawaban yang menenangkan.

“Pak Ustadz, Pak Danang sudah menyerahkan sepenuhnya kepada sampean. Itu sudah menjadi hak panjenengan. Jika ingin diberikan kepada ibu, Insya Allah justru menjadi lebih berkah,” ujarnya.

Belum selesai kalimat itu terucap, tangis Ustadz Ahmad Fathoni pecah.

Di hadapan seluruh warga yang hadir, ia langsung bersimpuh dan sungkem di kaki sang ibu, Ibu Fatimah.

Pemandangan tersebut membuat suasana berubah menjadi lautan haru. Banyak warga, perangkat desa, relawan, hingga keluarga yang tak mampu menahan air mata.

Di tengah puing-puing rumah yang hangus terbakar, tersaji pemandangan yang jauh lebih berharga daripada harta benda: bakti seorang anak kepada ibunya.

“Saya tidak akan pernah bisa membalas jasa ibu saya,” tutur Ustadz Ahmad Fathoni dengan mata sembab.

“Beliau yang mengandung saya, melahirkan saya, menyusui saya, membesarkan saya, mendoakan saya setiap malam. Saya pernah berjanji dalam hati, jika suatu hari Allah memberi kesempatan ke Tanah Suci, maka yang pertama saya ingat adalah ibu saya.”

Menurutnya, selama ini sang ibu merupakan sosok yang tak pernah lelah memberikan doa dan restu untuk anak-anaknya.

“Ibu saya masih sehat, masih bersama saya. Saya ingin beliau melihat Ka’bah, berziarah ke makam Rasulullah SAW, dan merasakan nikmatnya menjadi tamu Allah. Semoga hadiah umrah ini menjadi jalan terwujudnya cita-cita beliau.”

Ia juga menyampaikan doa dan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu keluarganya.

“Mudah-mudahan Allah membalas semua kebaikan Pak Danang, Ibu Hj. Endang, keluarga besar perusahaan, pemerintah desa, dan seluruh masyarakat yang telah membantu kami. Semoga semuanya menjadi keberkahan bagi kita semua.”

Kisah ini menjadi bukti bahwa di balik musibah sering kali Allah SWT menghadirkan pelajaran hidup yang luar biasa. Ketika banyak orang menangisi rumah yang terbakar, masyarakat Sribawono justru menyaksikan bagaimana cinta seorang anak kepada ibunya tetap berdiri kokoh dan tidak ikut hangus bersama puing-puing yang berserakan.

Sebuah kisah tentang bakti, cinta, dan keikhlasan yang mengingatkan bahwa surga memang berada di bawah telapak kaki ibu.( Red/Prie)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *