JAKARTA : Dari Lampung Utara, Mayor Jenderal TNI Kristomei Sianturi menapaki karier hingga panggung nasional. Perwira kelahiran Lampung Utara itu kini dipercaya memimpin Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Presiden Prabowo Subianto melantik Kristomei sebagai Kepala BNPB pada Kamis, 15 Oktober 2026. Ia menggantikan Letnan Jenderal TNI Suharyanto.
Penunjukan ini sekaligus menutup satu fase perjalanan Kristomei sebagai Panglima Kodam XXI/Radin Inten. Sebelumnya, ia memimpin wilayah pertahanan yang mencakup Lampung dan Bengkulu.
Namun, di balik kenaikan karier tersebut terdapat kisah yang lebih dekat dengan Lampung Utara. Kristomei bukan sekadar pernah bertugas di Lampung. Ia lahir di Lampung Utara dan menghabiskan masa kecil hingga remajanya di daerah tersebut.
Ikatan itu bahkan mendapat pengakuan dalam tradisi adat Lampung.
Pada Juli 2026, ketika masih menjabat Pangdam XXI/Radin Inten, Kristomei menjalani prosesi Angkon Muakhi di Kelurahan Kelapa Tujuh, Kecamatan Kotabumi Selatan, Lampung Utara.
Melalui prosesi Pengangkenan dan Pengguain, Kristomei diterima sebagai saudara dalam masyarakat adat Pungguk Lama, Kebumian Suttan Rajo Putra Negara, Suku Agung Kampung Pungguk Lama, Kecamatan Abung Timur.
Ia kemudian dianugerahi gelar adat Pangeran Satria Negara.
Istrinya, Desi Asti Megasari, juga mendapat gelar adat Ratu Ibu Pertiwi.
Prosesi tersebut memiliki makna lebih dari sekadar pemberian gelar. Kristomei yang berlatar belakang Batak diterima sebagai bagian dari keluarga besar masyarakat adat Lampung. Di sana, identitas daerah dan persaudaraan adat bertemu dengan perjalanan seorang perwira TNI yang lahir dan tumbuh di Lampung Utara.
“Air yang pertama saya minum adalah air Lampung Utara,” kata Kristomei saat menerima pengakuan adat tersebut.
Kalimat itu menjadi penanda kuat hubungan personalnya dengan daerah tersebut.
Karier Kristomei di TNI berkembang dalam lintasan yang cukup panjang. Lulusan Akademi Militer 1997 itu pernah dipercaya menduduki sejumlah posisi strategis. Salah satunya Kepala Pusat Penerangan TNI pada 14 Maret hingga 15 Agustus 2025.
Sebagai Kapuspen, Kristomei menjadi salah satu wajah institusi TNI di hadapan publik. Ia berhadapan dengan media dan menyampaikan informasi resmi mengenai berbagai perkembangan di lingkungan militer.
Setelah itu, kariernya bergerak ke wilayah komando. Ia dipercaya menjadi Pangdam XXI/Radin Inten.
Kenaikan pangkatnya juga berlangsung dalam periode yang relatif singkat. Kristomei naik dari Brigadir Jenderal menjadi Mayor Jenderal pada 6 Mei 2025.
Kini, kurang dari dua tahun setelah menyandang pangkat bintang dua, tanggung jawabnya berubah secara drastis.
Dari mengendalikan tugas pertahanan di wilayah Lampung dan Bengkulu, Kristomei harus mengoordinasikan penanggulangan bencana di seluruh Indonesia.
BNPB berada di garis depan menghadapi ancaman gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, banjir, tanah longsor, kekeringan, hingga kebakaran hutan dan lahan.
Tugas itu menuntut bukan hanya kemampuan komando, tetapi juga koordinasi lintas lembaga dan komunikasi publik yang kuat.
Bagi Lampung Utara, penunjukan Kristomei memiliki arti tersendiri.
Daerah yang menjadi tempat kelahirannya kini menjadi bagian penting dari cerita perjalanan seorang putranya menuju jabatan strategis di tingkat nasional.
Bupati Lampung Utara Hamartoni Ahadis sebelumnya mengajak Kristomei untuk tidak melupakan kampung halaman dan terus berkontribusi bagi daerah.
Pesan itu mendapat konteks baru setelah Kristomei kini dipercaya memimpin BNPB.
Sebab, Lampung Utara bukan hanya tempat kelahirannya. Daerah itu juga menjadi tempat ia memperoleh pengalaman sosial dan pendidikan sebelum melanjutkan perjalanan hingga menjadi perwira tinggi TNI.
Dalam tradisi masyarakat Lampung, seseorang yang telah diangkat menjadi saudara adat bukan lagi sekadar orang luar. Ada ikatan moral dan tanggung jawab sosial yang menyertainya.
Tokoh adat Lampung Utara ketika itu menegaskan bahwa pengangkatan Kristomei merupakan simbol bahwa perbedaan latar belakang suku tidak menjadi penghalang untuk membangun persaudaraan. Justru dari keberagaman itulah identitas bersama dibentuk.
Sebagai Kepala BNPB, Kristomei menghadapi tantangan yang berbeda dengan tugas sebelumnya sebagai Pangdam.
Ia harus membangun koordinasi dengan pemerintah daerah, TNI, Polri, kementerian dan lembaga, dunia usaha, relawan, serta masyarakat dalam satu sistem penanggulangan bencana.
Pengalaman sebagai Pangdam menjadi modal dalam memahami karakter wilayah dan koordinasi lintas unsur. Sementara pengalaman sebagai Kapuspen menjadi bekal dalam menghadapi komunikasi publik—dua kemampuan yang akan diuji dalam setiap situasi darurat.
Jabatan Kepala BNPB juga berpotensi membawa Kristomei ke pangkat Letnan Jenderal atau bintang tiga. Namun, kenaikan pangkat merupakan keputusan tersendiri yang mengikuti ketentuan dan proses administrasi kepangkatan TNI.
Yang kini pasti, perjalanan Kristomei memasuki babak baru. Dari seorang anak yang lahir di Lampung Utara, kemudian menjadi perwira tinggi TNI, Pangdam XXI/Radin Inten, dan bagian dari masyarakat adat Lampung, Kristomei Sianturi kini mendapat mandat memimpin lembaga yang bertanggung jawab menghadapi bencana di seluruh Indonesia.
(*)










