Yogyakarta : Lonjakan harga plastik sepanjang 2026 tidak hanya menjadi persoalan industri. Namun, juga menandakan adanya tekanan struktural dalam perekonomian nasional. Kenaikan hingga 100 persen ini dipicu oleh dinamika global, mulai dari harga minyak dunia hingga gangguan rantai pasok internasional.
Dilansir dari www.umy.ac.id, Pakar Ekonomi Energi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Dessy Rachmawatie, M.Si., menilai kenaikan harga plastik saat ini merupakan bagian dari fenomena cost-push inflation. Fenomena tekanan inflasi yang disebabkan oleh meningkatnya biaya produksi, khususnya pada sektor berbasis energi.
“Plastik sebagai produk turunan petrokimia sangat bergantung pada sektor energi. Ketika harga minyak dunia meningkat, biaya produksinya ikut naik. Hal ini kemudian mendorong kenaikan harga secara lebih luas. Tidak hanya pada industri manufaktur, tetapi juga sektor lain yang memiliki keterkaitan,” jelas Dessy, Rabu (15/4) di UMY.
Dinamika Global Dorong Lonjakan Harga Plastik
Dinamika global menjadi faktor utama yang mendorong lonjakan harga plastik. Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah turut memengaruhi stabilitas distribusi energi dunia. Gangguan pada jalur strategis perdagangan minyak, seperti Selat Hormuz, menyebabkan terganggunya pasokan bahan baku dan meningkatnya biaya distribusi.
“Kenaikan harga plastik sangat erat kaitannya dengan dinamika global, khususnya harga minyak dan gangguan rantai pasok internasional. Konflik geopolitik di Timur Tengah telah mengganggu jalur distribusi energi global, termasuk Selat Hormuz sebagai jalur utama perdagangan minyak. Dampaknya adalah terganggunya pasokan bahan baku plastik dan meningkatnya harga secara global,” ungkapnya.
Ketergantungan Impor Masih Tinggi
Selain faktor eksternal, Dessy juga menyoroti persoalan mendasar dalam struktur industri nasional, yakni tingginya ketergantungan terhadap impor bahan baku plastik. Saat ini, sekitar 50 hingga 60 persen kebutuhan bahan baku masih dipenuhi dari luar negeri.
Ketergantungan tersebut membuat Indonesia rentan terhadap guncangan global. Setiap kenaikan harga di pasar internasional akan dengan cepat ditransmisikan ke dalam negeri tanpa banyak ruang untuk meredam dampaknya.
“Ketergantungan pada impor bahan baku industri membuat kita sangat mudah terdampak oleh fluktuasi global. Ketika harga plastik naik hingga 30–100 persen, ini bukan lagi sekadar isu sektoral, melainkan sudah berimplikasi pada stabilitas ekonomi secara lebih luas, termasuk daya beli masyarakat,” pungkas Dessy.
Peringatan bagi Pemerintah
Ia menambahkan, fenomena ini seharusnya menjadi peringatan bagi pemerintah untuk segera memperkuat fondasi industri nasional, khususnya pada sektor hulu berbasis petrokimia.
Penguatan kapasitas produksi dalam negeri dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan impor sekaligus meningkatkan ketahanan ekonomi terhadap tekanan global. Kenaikan harga plastik yang dipicu faktor global ini tidak hanya menjadi tantangan jangka pendek, tetapi juga menunjukkan perlunya transformasi struktural dalam perekonomian nasional agar lebih mandiri dan tahan terhadap gejolak eksternal. (NF)
Penulis: Nabila Fara Anjani












