Multazam Santri Muda Berangkat Haji

<span;>Kotabumi_Pagi itu, Minggu (3-5-2026) suasana di halaman Islamic Centre Kotabumi ramai dipadati orang-orang yang mengantar orang tua, saudara untuk berangkat menunaikan rukun islam yang kelima. Suasana  dipenuhi peluk haru dan do’a dari ratusan keluarga mengantar untuk keberangkatan haji tahun 2026. Diantara ratusan oarang dengan wajah penuhi harap, tampak seorang remaja dengan sorot mata tenang tergabung dalam jemaah, ialah Muhammad Multazam Nabil Assyaf, 16 tahun warga desa Mulangmaya, Kotabumi Selatan.

<span;>Di usianya yang masih belia, Multazam berdiri bukan sekadar sebagai jemaah calon haji termuda tahun 2026 dari Kabupaten Lampung Utara. Ia membawa sesuatu amanah dari orang tua yang telah tiada. Multazam berangkat ke tanah suci menemani sang ibunda, Fitri Maya. Kesempatan berhaji yang ia dapatkan bukan melalui antrian panjang yang lazim, melainkan pelimpahan kursi haji dari orang tuanya.

<span;>Dengan suara pelan dan mata yang tak sepenuhnya mampu menyembunyikan haru, Multazam mengungkapkan alasan di balik langkah besarnya.
<span;>”Ini bukan hanya perjalanan ibadah. Ini tentang melanjutkan cita-cita orang tua,” ujarnya dengan lirih.

<span;>Multazam merupakan seorang  santri di Pondok Pesantren SMA Darul Hidayah Kemiling, Bandarlampung. Kehidupan di Pondok membuat ia terbiasa dengan kehidupan yang disiplin dan penuh nilai-nilai keagamaan.

<span;>Perjalanan haji baginya adalah babak baru sebuah ruang pembuktian bahwa bakti kepada orang tua tidak berhenti oleh batas kehidupan.

<span;>Di tengah arus zaman yang sering menempatkan generasi muda dalam sorotan yang kurang menggembirakan, kisah Multazam hadir sebagai penyejuk. Ia menunjukkan bahwa nilai tanggung jawab, kesetiaan pada amanah, dan kedalaman spiritual tetap hidup di kalangan remaja.

<span;>Sementara itu, sebanyak 398 jemaah calon haji asal Lampung Utara resmi dilepas oleh Bupati Hamartoni Ahadis. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa haji bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan proses pembentukan karakter.

<span;>“Haji adalah madrasah kehidupan—tempat belajar tentang kesabaran, keikhlasan, dan kebersamaan,” ujar Bupati

<span;>Namun, di balik seremoni resmi dan pesan-pesan formal itu, ada cerita-cerita kecil yang justru menyimpan makna besar. Kisah seperti yang dijalani Multazam menjadi pengingat bahwa ibadah haji bukan hanya tentang siapa yang berangkat, tetapi juga tentang niat dan nilai yang dibawa.

<span;>Di antara langkah-langkah yang akan menapaki tanah suci, Multazam berjalan dengan satu tujuan sederhana namun mendalam menunaikan amanah dan menghadiahkan doa terbaik untuk orang tuanya khususnya sang ayahanda yang telah tiada.
<span;>Di usia yang masih sangat muda, Multazam mengajarkan satu hal yang sering terlupakan, bahwa kedewasaan tidak selalu soal umur, melainkan tentang keberanian memikul makna dalam hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *