Lampung Utara : Di tengah semarak Ramadhan Fest 2026 yang digelar BPJS Kesehatan, satu nama mencuat dan menyita perhatian: Thania Ramadhani Kharisma. Siswi kelas VI SD Islam Ibnurusyid Kotabumi ini berhasil meraih juara pertama lomba da’i cilik tingkat nasional, mengungguli 36 peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Prestasi tersebut bukan sekadar kemenangan di atas panggung. Thania menjadi potret bagaimana ajang kompetisi religius mampu menjadi ruang pembentukan karakter, keberanian, serta kemampuan literasi publik anak sejak usia dini.
Putri ketiga pasangan Edison Kharisma dan Apriyantina ini dikenal konsisten menorehkan prestasi. Di sekolah, ia hampir tak pernah lepas dari posisi juara kelas sejak kelas I hingga VI. Di luar akademik, Thania juga aktif mengikuti berbagai lomba, mulai dari puisi hingga dakwah.
“Ia memang suka membaca, mendengarkan musik, dan sesekali bermain gim. Tapi kalau sudah fokus, dia sangat serius,” ujar Apriyantina, Senin (30/03/2026).
Ajang da’i cilik yang diinisiasi BPJS Kesehatan tidak hanya berorientasi pada kompetisi, tetapi juga mendorong pemahaman nilai moral, kesehatan, dan kepedulian sosial. Dalam konteks ini, Thania tampil bukan hanya sebagai juara, tetapi juga sebagai representasi generasi muda yang mampu menyampaikan pesan edukatif secara komunikatif.
Fenomena da’i cilik pun kini mengalami pergeseran. Tak lagi sekadar mengandalkan hafalan, peserta dituntut mampu mengangkat isu-isu kontekstual, termasuk pentingnya menjaga kesehatan—selaras dengan misi penyelenggara.
Bakat Thania disebut telah terlihat sejak kecil. Ia dikenal aktif, cepat menangkap pelajaran, serta memiliki kepercayaan diri tinggi saat berbicara di depan umum. Dukungan keluarga menjadi fondasi penting dalam menjaga konsistensi tersebut.
Meski sarat prestasi, Thania tetap menjalani kehidupan anak seusianya. Ia gemar menyantap kue rasa matcha dan masih menyempatkan diri bermain di sela aktivitas belajar dan latihan.
Menariknya, Thania tidak hanya bercita-cita menjadi penceramah. Ia menargetkan masa depan sebagai dokter spesialis anestesi—profesi yang menuntut ketelitian, empati, dan tanggung jawab tinggi.
Ambisi itu mencerminkan perpaduan antara kemampuan komunikasi yang ia miliki saat ini dengan orientasi masa depan di bidang kesehatan. Sebuah jalur yang berpotensi melahirkan figur profesional yang tak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga kuat secara nilai.
Kisah Thania menjadi pengingat bahwa prestasi anak tidak lahir secara instan. Ia tumbuh dari lingkungan yang suportif, ruang ekspresi yang tepat, serta ketekunan yang dijaga sejak dini. Di tengah tantangan era digital, figur seperti Thania menunjukkan bahwa pendidikan karakter dan prestasi akademik tetap dapat berjalan beriringan.
(Ysn)












