WAY KANAN : Setelah belasan tahun dibiarkan rusak tanpa kepastian, ruas jalan Kasui–Air Ringkih di Kabupaten Way Kanan akhirnya mulai dibangun.
Pemerintah Provinsi Lampung menggelontorkan anggaran besar untuk memutus keterisolasian wilayah sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.
Total anggaran yang dikucurkan pada 2026 mencapai Rp172 miliar untuk perbaikan jalan di Way Kanan, mencakup tujuh paket kegiatan dari 13 ruas prioritas. Dari jumlah itu, sebesar Rp53,319 miliar difokuskan khusus untuk penanganan ruas Kasui–Air Ringkih sepanjang 5,6 kilometer yang terbagi dalam dua segmen.
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, turun langsung meninjau lokasi pada Rabu (8/4/2026), memastikan proyek berjalan sesuai standar di tengah besarnya ekspektasi publik.
“Kurang lebih 15 tahun jalan ini tidak diperbaiki. Masyarakat sudah sangat sabar. Saya minta pekerjaan ini dilakukan sebaik mungkin sesuai spesifikasi,” tegasnya.
Ruas sepanjang 26,295 kilometer itu selama ini menjadi titik lemah konektivitas dengan tingkat kemantapan baru 45,03 persen. Sebagian bahkan belum pernah tersentuh aspal, membuat aktivitas warga terhambat dan biaya ekonomi meningkat.
Mirza menegaskan, proyek ini bukan sekadar pekerjaan fisik, melainkan amanah yang harus dijaga kualitasnya.
“Ini bukan hanya soal kontrak pekerjaan, tapi wujud dari doa-doa masyarakat. Jangan sampai hasilnya mengecewakan,” ujarnya.
Pemprov juga mengubah pendekatan teknis dengan meningkatkan kualitas konstruksi. Jalan yang sebelumnya direncanakan berlapis hotmix kini menggunakan rigid pavement untuk daya tahan lebih lama. Selain itu, badan jalan diperlebar dari 3,5 meter menjadi 6 meter, ditambah bahu jalan di kedua sisi hingga total lebar mencapai 8 meter.
Gubernur turut mengingatkan pentingnya sistem drainase dan pemeliharaan agar jalan tidak cepat rusak.
“Kalau dijaga dengan baik, jalan ini bisa bertahan hingga 20 tahun,” katanya.
Di tingkat masyarakat, proyek ini dipandang sebagai titik balik dari keterisolasian panjang. Kepala Kampung Gunung Sari, Malik Irsan, menyebut pembangunan jalan sebagai jawaban atas kebutuhan mendasar warga Rebang Tangkas.
“Ini bukan sekadar jalan dibangun, tapi harapan masyarakat yang akhirnya dijawab. Sudah menjadi cerita turun-temurun,” ujarnya.
Selama ini, kondisi jalan rusak berdampak luas, mulai dari distribusi hasil pertanian yang terhambat hingga tingginya risiko kecelakaan. Sebagai wilayah penghasil sawit, akses jalan menjadi urat nadi ekonomi warga.
Secara strategis, pembangunan ini juga membuka peluang konektivitas lintas provinsi. Jika tersambung hingga perbatasan Sumatera Selatan, jalur ini diproyeksikan memangkas waktu tempuh hingga 1,5 jam dari Muara Dua ke Bandar Lampung tanpa harus melalui Martapura.
Dengan suntikan anggaran besar dan peningkatan kualitas konstruksi, proyek Kasui–Air Ringkih kini menjadi ujian keseriusan pemerintah dalam menjawab janji pembangunan—setelah 15 tahun jalan itu nyaris terabaikan.
Editor : Yongki












