Jakarta: Kenaikan harga plastik dan stirofoam pasca Lebaran kini langsung menghantam pelaku usaha kecil. Di tengah lonjakan biaya kemasan, pedagang memilih menahan harga jual demi menjaga daya beli konsumen—meski konsekuensinya, margin keuntungan terus tergerus.
Sismiati, penjual seblak di Jakarta Timur, menjadi potret nyata tekanan tersebut. Untuk satu porsi dagangannya, ia membutuhkan tiga lapis kemasan: dua plastik kresek dan satu stirofoam. Kenaikan harga kemasan membuat biaya operasionalnya melonjak drastis dalam waktu singkat.
“Sebelum puasa itu harganya masih Rp20.000 per 100 lembar. Pas puasa naik jadi Rp25.000, Lebaran Rp35.000, sekarang sudah ada yang Rp40.000,” ujarnya, Jumat (03/04/2026).
Namun, Sismiati memilih tidak menaikkan harga jual. Ia mengaku harus “mengalah” agar pelanggan tetap bisa membeli.
“Kasihan mereka. Gaji tidak naik, tapi semua harga naik. Jadi saya tahan harga,” kata dia.
Fenomena serupa terjadi di daerah lain. Di Makassar, pedagang perlengkapan plastik di Pasar Pabaeng-Baeng juga merasakan lonjakan yang tidak biasa. Hastina, yang telah berjualan selama satu dekade, menyebut kenaikan kali ini jauh lebih tajam dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Dulu naik paling Rp1.000–Rp2.000. Sekarang bisa Rp5.000 atau lebih. Misalnya dari Rp3.000 jadi Rp8.000,” ujarnya.
Kenaikan harga plastik ini bukan sekadar gejolak lokal. Di hulu industri, harga bahan baku utama—nafta—melonjak hampir 45 persen dalam satu bulan terakhir. Per 1 April 2026, harga nafta menyentuh 917 dolar AS per ton, naik dari sekitar 630 dolar AS pada Februari.
Lonjakan ini dipicu terganggunya pasokan global akibat konflik di Timur Tengah, yang selama ini menyuplai sekitar 70 persen kebutuhan nafta dunia. Dampaknya merambat cepat ke industri petrokimia dan produk turunan plastik.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas), Fajar Budiono, menyebut industri saat ini berada dalam “mode bertahan”.
“Kami mempertahankan utilitas produksi di level minimum untuk memenuhi kebutuhan lokal,” kata Fajar.
Menurut dia, ketidakpastian pasokan membuat industri kesulitan menjaga stabilitas produksi. Pemerintah dan pelaku usaha kini mulai melirik sumber alternatif dari Afrika, Asia Tengah, hingga Amerika Serikat. Namun, solusi ini membawa konsekuensi waktu pengiriman yang jauh lebih lama.
“Kalau dari Timur Tengah sekitar 15 hari, dari luar bisa sampai 50 hari,” ujarnya.
Di sisi hilir, tekanan ini berujung pada dilema klasik: menaikkan harga dan berisiko kehilangan pembeli, atau menahan harga dengan keuntungan yang semakin tipis. Banyak pedagang kecil memilih opsi kedua—menjadi penyangga terakhir agar lonjakan biaya tidak langsung dirasakan konsumen.
Namun, tanpa stabilisasi pasokan dalam waktu dekat, daya tahan pedagang kecil diperkirakan semakin rapuh. Kenaikan harga plastik bukan lagi sekadar isu industri, melainkan ancaman nyata bagi keberlangsungan usaha mikro di tengah pemulihan ekonomi pasca Lebaran.
Editor : Yongki












