Indonesia pernah punya masa di mana layar kaca setiap hari dihiasi oleh sosok pria bertubuh ramping dengan dialek Makassar yang khas, yang kata-katanya mampu membuat nyali para koruptor menciut. Ia adalah Abraham Samad, “Singa dari Timur” yang mendobrak kemapanan hukum di ibu kota.
Terpilih di usia yang tergolong muda untuk jabatan sekelas Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Abraham membawa spirit aktivis jalanan ke dalam gedung formal yang kaku. Inilah perjalanan panjang sang doktor hukum dari Unhas hingga menjadi sosok yang paling dicari dalam pusaran politik nasional.
Kejutan dari Makassar: Menumbangkan Nama Besar
Desember 2011, publik dikejutkan oleh hasil pemungutan suara di Komisi III DPR. Seorang pengacara dan aktivis daerah bernama Abraham Samad berhasil menyabet 43 suara, menang telak atas tokoh-tokoh mapan seperti Busyro Muqoddas.
Kemenangan ini dianggap sebagai angin segar. Publik yang jenuh dengan birokrasi yang lamban menaruh harapan besar pada pundak Abraham. Ia datang bukan dari lingkungan elit Jakarta, melainkan dari garis depan perlawanan korupsi di Sulawesi Selatan melalui Anti Corruption Committee (ACC).
Era “Tanpa Pandang Bulu”: Menteri Hingga Jenderal Disikat
Di bawah kepemimpinan Abraham Samad, KPK memasuki era paling agresif. Semboyannya jelas: tidak ada orang yang kebal hukum. Beberapa gebrakan yang mengguncang panggung politik tanah air antara lain:
Penahanan Menteri Aktif: Sejumlah menteri di era Presiden SBY tak luput dari bidikan, membuktikan bahwa jabatan tinggi bukan jaminan keamanan dari jeratan KPK.
Kasus Simulator SIM: Keberanian Abraham diuji saat KPK harus berhadapan dengan korps kepolisian terkait kasus yang melibatkan jenderal aktif.
Skandal Besar Parlemen: Pimpinan partai politik besar satu per satu mulai mencicipi dinginnya rompi oranye.
Prahara Politik dan Akhir yang Dramatis
Namun, semakin tajam taring sebuah lembaga, semakin besar pula serangan balik yang diterima. Tahun 2015 menjadi titik balik perjuangan Abraham. Namanya sempat terseret dalam hiruk-pukuk bursa Calon Wakil Presiden, sebuah langkah yang kemudian disebut-sebut sebagai awal dari badai politik yang menghantamnya.
Klimaksnya terjadi saat KPK menetapkan Komjen Budi Gunawan sebagai tersangka. Tak berselang lama, serangan balik hukum menghujam Abraham melalui kasus administrasi kependudukan masa lalu yang muncul tiba-tiba. Dunia aktivis dan pegiat antikorupsi menyebut fenomena ini sebagai “Kriminalisasi KPK”.
Presiden Joko Widodo akhirnya memberhentikan sementara Abraham untuk menjalani proses hukum, sebuah momen yang banyak dianggap sebagai “senjakala” keberanian KPK di masa itu.
Warisan Sang Aktivis
Kini, meski tak lagi berada di dalam gedung merah putih, nama Abraham Samad tetap melekat sebagai simbol keberanian. Ia membuktikan bahwa integritas tidak bisa dibeli dengan jabatan, dan keberanian adalah modal utama untuk melawan sistem yang korup.
Kisah Abraham Samad adalah pengingat bagi kita semua: bahwa melawan korupsi di Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar kepintaran, tapi juga nyali yang tak terbatas.
Sumber: Wikipedia “Abraham Samad”
.












