JAKARTA : Rencana kenaikan harga kondom global oleh produsen terbesar dunia, Karex, memunculkan kekhawatiran terhadap akses masyarakat terhadap alat kesehatan reproduksi.
Di tengah lonjakan biaya produksi dan terganggunya rantai pasok global, harga kondom diperkirakan naik 20 hingga 30 persen, bahkan berpotensi lebih tinggi jika situasi geopolitik terus memanas.
Direktur Utama Karex, Goh Miah Kiat, menyebut kondisi saat ini menekan industri secara signifikan. “Biaya meningkat di berbagai lini. Kami tidak punya banyak pilihan selain meneruskan kenaikan ini kepada konsumen,” ujarnya kepada Reuters.
Menariknya, kenaikan harga terjadi saat permintaan global justru meningkat sekitar 30 persen. Namun, lonjakan tersebut tidak diimbangi dengan kelancaran distribusi. Keterlambatan pengiriman dan mahalnya ongkos logistik membuat pasokan di sejumlah negara mulai terbatas.
Sebagai produsen yang memasok lebih dari 5 miliar kondom per tahun—termasuk untuk merek besar seperti Durex dan Trojan—Karex kini menghadapi tekanan berlapis, dari bahan baku hingga distribusi.
Laporan The Guardian mencatat, sejak konflik di Timur Tengah memanas pada akhir Februari, biaya produksi meningkat tajam.
Bahan baku seperti karet sintetis, nitril, hingga komponen pendukung seperti aluminium foil dan pelumas berbasis silikon ikut terdampak.
Dampak pada Kesehatan Publik
Kondisi ini bukan sekadar persoalan industri.
Kenaikan harga dan potensi kelangkaan berisiko menghambat akses masyarakat terhadap alat kontrasepsi, terutama di negara berkembang. Padahal, kondom merupakan salah satu instrumen penting dalam pencegahan penyakit menular seksual serta pengendalian angka kehamilan.
Situasi diperparah dengan menurunnya dukungan bantuan internasional, termasuk dari United States Agency for International Development, yang selama ini berperan dalam distribusi alat kontrasepsi di berbagai negara.
Dari sisi logistik, waktu pengiriman kini membengkak hingga hampir dua bulan untuk tujuan Eropa dan Amerika Serikat—dua kali lipat dari kondisi normal. Akibatnya, banyak produk masih tertahan dalam proses distribusi saat kebutuhan di pasar meningkat.
“Kami melihat banyak produk masih berada di kapal, belum sampai ke konsumen yang membutuhkan,” kata Goh.
Karex memastikan masih memiliki stok untuk beberapa bulan ke depan dan tengah meningkatkan kapasitas produksi. Namun, situasi ini menunjukkan pentingnya antisipasi bersama, baik oleh pemerintah, pelaku industri, maupun lembaga internasional, untuk menjaga ketersediaan alat kesehatan reproduksi.
Di tengah tekanan global, upaya menjaga akses yang terjangkau menjadi kunci agar masyarakat tetap mendapatkan perlindungan kesehatan yang memadai.
(**)












